rss

Rahasia Bisnis Internet

Referensi Bisnis Internet

  • Super Bonus Formula Bisnis - Informasi tentang bonus Formula Bisnis berikut ini akan sangat mengejutkan anda, karena hanya dengan sedikit investasi, anda berhak mendapatkan lebih banya...
    1 minggu yang lalu
Foto Saya
Mr. Ipung
@ Lahir di Jember. Hingga kini, gemar menulis artikel dan buku.
Lihat profil lengkapku

23 Agustus 2009

Cara Mudah Bikin Account Ziddu



Dengan memiliki account Ziddu, Anda bisa menyimpan file, foto, dan film sambil memperoleh pendapatan untuk setiap unique download sebesar $0.001. File Anda akan tetap berada di server Ziddu selama 90 hari. Tak hanya itu, Anda akan mendapatkan $0.10 dari setiap orang yang mendaftar di Ziddu melalui referral link Anda, dan mengupload file ke server Ziddu.

Anda tertarik? Jika ya, segera miliki account Ziddu dengan mendaftarkan diri Anda terlebih dahulu. Berikut ini adalah cara mendaftar di Ziddu:

1. Klik DI SINI!
2. Isilah data-data yang diperlukan seperti nama, email, password, dan lain-lain.
3. Klik SUBMIT.
4. Klik MY ACCOUNT dan pilih metode pembayaran yang Anda inginkan, misalnya PayPal. Jika Anda belum memiliki account PayPal karena merasa kesulitan membuatnya, silahkan Anda pelajari dan praktikkan Panduan Praktis Rekening PayPal, kemudian klik UPDATE.
5. Klik UPLOAD untuk mengupload file. Setelah selesai, maka akan muncul link url untuk mendownload file Anda yang sudah diupload. Anda bisa meletakkan link url tersebut di blog/web, atau mengirimkannya ke teman-teman Anda melalui email agar Anda memperoleh bayaran.
6. Klik MY FILES untuk melihat file-file apa saja yang sudah Anda upload. Jika Anda ingin file tersebut bisa didownload, klik SHARE.
7. Klik MY EARNINGS untuk melihat pendapatan Anda.



Baca selengkapnya...

05 Agustus 2009

Mengingat Kembali Politik Apartheid


Oleh: Syaiful Bari

Membaca novel Tsotsi karya Athol Fugard ini bisa mengingatkan kita pada politik Apartheid di Afrika Selatan (Afsel). Politik Apartheid merupakan politik perbedaan perlakuan atas dasar ras (warna kulit). Dalam politik Apartheid itu, orang-orang berkulit hitam dinomerduakan setelah orang-orang kulit putih. Terjadilah apa yang dinamakan diskriminasi atau perlakukan tidak adil terhadap warga berkulit hitam Afsel.

Salah satu tokoh sentral yang anti-politik Apartheid itu ialah Nelson Mandela. Seperti yang dicatat sejarah, Mandela tidak henti-hentinya memperjuangkan persamaan hak dan demokrasi. Yang menarik, ternyata Mandela tidak pernah membalas tindakan rasis dengan tindakan rasis. Karena itu, hidupnya telah menjadi inspirasi kebangkitan masyarakat Afrika Selatan dan seluruh dunia. Ia bahkan menjadi presiden kulit hitam pertama di Afsel pada tanggal 10 Mei 1994.

Potret buram dan aneka kisah “kegelapan” masa politik Apartheid itulah yang direkam dengan apik oleh Athol Fugard dalam novel Tsotsi ini. Novel ini bercerita tentang kehidupan tokoh Tsotsi, seorang pemuda kulit hitam yang tidak ingat akan nama aslinya, lupa masa kecil, dan bagaimana prosesnya hingga ia bisa menjadi seorang gangster yang ditakuti banyak orang. Karakter dan hidupnya yang keras mendadak berubah setelah takdir membawanya berjumpa dengan seorang bayi yatim piatu, bayi yang secara kebetulan “ditemukannya” dan kemudian diasuhnya.

Lebih lanjut, Fugard menceritakan bahwa sejak Undang-Undang (UU) Pertanahan 1913, yang menjatah 77 persen wilayah negara untuk kulit putih diundangkan, pemerintah Afrika Selatan tidak lagi mau mengakui kalau warga kulit hitam sesungguhnya memiliki hal untuk tinggal di perkampungan yang layak secara tentram, aman, dan nyaman. Mereka, orang-orang kulit hitam, dipaksa tinggal di perkampungan-perkampungan kumuh yang kotor. Ironisnya, di perkampungan seperti itu tidak ada lapangan pekerjaan.

Menurut Fugard, represi dari rezim pemerintahan Apartheid yang diskriminatif itulah yang mendesak orang-orang tertindas untuk mengincar dan “memakan” orang lain yang lebih rendah darinya dalam rantai makanan. Tokoh Tsotsi dalam Tsotsi adalah produk dari kekejaman rezim Apartheid itu. “Tsotsi” sendiri yang dijadikan sebuah “gaya” oleh kaum muda dalam bahasa Afrika Selatan berarti “begal” atau “gangster”. Dari sini, jelaslah bahwa hiruk pikuk kehidupan Tsotsi dipenuhi dengan kebencian terhadap “yang lain”.

Bersama Nadine Godimer, Coetze, dan Andre Brink, Athol Fugard sudah lama dikategorikan sebagai sastrawan yang melontarkan kritik keras terhadap Apartheid, dan kemudian mendapat pengakuan internasional. Fugard sendiri menulis Tsotsi mulai 1960, dan sempat ia tinggalkan karena dianggap buruk pada 1962. Sebagian manuskripnya ia robek, dan ia memutuskan untuk tak melanjutkannya. Tapi pada 1978, beberapa orang di Inggris menemukan draf naskah itu, lalu menyarankan Fugard mengizinkan penyuntingan untuk penerbitan novel itu.

Pada tahun 1979, setelah 20 tahun, untuk pertama kali Fugard membaca kembali Tsotsi, untuk diterbitkan. Akhirnya, pada 2004-2005, Gavin Hood, seorang sutradara Afrika Selatan, membuat filmnya yang telah berhasil memenangi Oscar sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik 2006. Liku-liku penulisan dan penerbitan novel ini memberi latar bagi sebuah adikarya yang menghebohkan. Dalam novel Tsotsi, Fugard sukses mengangkat nilai-nilai universal secara provokatif serta menunjukkan bagaimana cinta, kehormatan, dan kemanusiaan dapat mengalahkan apa pun.

Melalui tokoh Tsotsi, Fugard berhasil membawa pembaca pada pengalaman-penglaman mengesankan soal pencarian identitas diri. Ia menuturkan, pada awalnya Tsotsi adalah pemimpin gangster ternama yang tak tahu akan identitas dirinya sendiri. Siapa dirinya? Usianya berapa? Darimana asalnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu merupakan pertanyaan yang sangat dibenci Tsotsi karena dirinya memang tidak bisa menjawabnya. Ia tidak peduli apakah dirinya berasal dari keluarga baik-baik atau malah dari keluarga penjahat.

Yang ada dalam kamus Tsotsi hanyalah hasrat membunuh. Bersama tiga rekannya: Jagal, Die Aap, dan Boston, ia tidak henti-hentinya mencari dan menentukan target untuk dibunuh. Dalam melakukan rutinitas membunuh itu, mereka menggunakan pisau lipat yang banyak jumlahnya dan mencolok. Membunuh atau menghilangkan nyawa manusia tak berdosa kemudian menjadi semacam “kebutuhan” yang mesti dilakukan secara rutin. Sekali saja tidak membunuh, ketenangan Tsotsi terganggu.

Aneh bin ajaib. Hasrat Tsotsi untuk membunuh pada akhirnya harus tunduk pada “keinginan untuk berubah”. Kematian dikalahkan oleh perasaan dan kesadaran. Itu terjadi saat Tsotsi secara kebetulan menemukan seorang bayi di kotak sepatu yang akhirnya diasuhnya.

Akhirnya, novel ini merupakan sebuah thriller psikologis yang membuat pembacanya semakin mengenal ruang-ruang di dalam batinnya yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Fugard telah berhasil “menyihir” para pembacanya untuk menikmati novel ini sampai tuntas.

Judul: Tsotsi
Penulis: Athol Fugard
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Bentang, Yogyakarta
Cetakan I: September, 2006
Tebal: xxiv + 352 Halaman

Sumber: Koran Tempo, 10 Desember 2006
Baca selengkapnya...